BPJS Ketenagakerjaan Bagi-bagi Seribu Kartu Multitrip Commuterline

Hallo Rekan-rekan commuter Jabodetabek, akhir-akhir ini (mulai 5 Desember 2017 kemarin) kamu mungkin sering dengar pengumuman didalam kereta saat kamu berangkat atau pulang kerja tentang kerja sama yang dilakukan Commuterline Indonesia dengan BPSJ Ketenagakerjaan.



1000 Kartu Multitrip Edisi Khusus


Kerjasama ini sebenarnya diselenggarakan dalam rangka ulang tahun BPJS Ketenagakerjaan. Jadi, bentuk kongkret dari kerja sama ini adalah ; Penumpang KRL yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan bakalan bisa mendapatkan kartu multitrip edisi khusus seperti gambar dibawah ini.

Kartu ini memiliki nominal saldo Rp.15.000,- kalo dilihat dari harga perolehannya menurut saya ini sangat lumayan banget karena menurut pengalaman saya sebelum nya. saya membeli kartu multitrip harga nya itu kalo tidak salah ingat sekitar Rp. 30.000,- dengan saldo sekitar sepuluh atau duapuluh ribu gitu.


1000 kartu multitrip
Tampilan Kartu Multitrip Edisi Khusu BPJS Ketenagakerjaan


Kelebihan kartu multitrip sendiri adalah kefleksibelan nya buat penumpang untuk bisa turun di stasiun mana saja sesukanya. kalau pakai THB (Tiket Harian Berjaminan) kan tidak bisa turun di stasiun yang melebihi stasiun tujuan awal. Nah dengan adanya program dari BPJS Ketenagakerjaan ini peluang untuk memiliki kartu multitrip dengan harga murah peluang nya jadi besar.


Bagaimana Teknis Penukarannya?


Nah, untuk mendapatkan kartu multitrip edisi khusus BPJS Ketenagakerjaan ini, kamu harus check dan pastikan dahulu apakah syarat dibawah ini semuanya sudahlengkap apa belum, Gampang kok cuma tiga saja :

1.  Kamu adalah peserta BPJS Ketenagakerjaan (dibuktikan dengan kartu BPJS nya. Jangan lupa di fotocopy ya)
2. Membawa fotocopy KTP
3. Punya tiket THB (Tiket harian berjangka)

Setelah semuanya sudah lengkap kamu bisa datangi salah satu dari 40 Stasiun yang tersebar di Jabodetabek yang terdekat dengan mu isaya infokan buat kamu daftarnya :



  1. Tanah Abang
  2. Bogor
  3. Bekasi
  4. Bojong Gede
  5. Citayam
  6. Depok Baru 
  7. Tebet
  8. Sudirman
  9. Jakarta Kota
  10. Depok
  11. Pondok Cina
  12. Manggarai
  13. Pasar Minggu
  14. Duren Kalibata
  15. Gondangdia
  16. Sudimara
  17. Juanda
  18. Palmerah
  19. Cilebut
  20. Rawa Buntu 
  21. Cikini
  22. Cawang
  23. Tangerang
  24. Kebayoran
  25. Tanjung barat
  26. jati Negara
  27. Lenteng Agung
  28. Univ. Indonesia
  29. Kranji
  30. Pondok Ranji
  31. Karet
  32. Duri 
  33. Cakung
  34. Parung Panjang
  35. Jurangmangu
  36. Univ. Pancasila
  37. Rangkas Bitung
  38. serpong
  39. Poris
  40. Sawah Besar
Konon, Kartu ini hanya tersedia sebanyak 1000 kartu saja, Penukaran nya sendiri mulai dilakukan sejak tangal 5 Desember 2017 sampai kartu nya habis. Jadi Buat kamu Peserta BPJS yang kepengen memiliki kartu ini, silahkan buruan sebelum kehabisan.


TIPS!
Untuk kamu yang akan menukarkan THB nya di Stasiun Tanah Abang, Kamu bisa menukarkan THB di loket yang ada di lantai dua. Kata Security disana, Penukaran hanya dilayani di loket lantai dua saja. Saat saya menukarkan kartu THB saya, Posisi Loketnya ada di paling kiri jika badan menghadap ke loket. Dikaca nya tertulis "Loket khusus penukaran kartu THB ke Multitrip".


Update:
Saya mencoba nukarin punya teman di stasiun Duri 09 Desember 2017, ternyata stock habis. Besok coba lagi di Stasiun Tanah Abang.


Update lagi:
Per tanggal 11 Desember 2017 Masih kebagian di Stasiun Tanah Abang. Kayaknya stocknya tinggal segepok lagi dah. Kayaknya loh ya...



Salam Roker (rombongan kereta)

/Zahri

Berfikir : Ala.., entahlah..

Malam ini aku melihat selembar kertas yang telah lama kubuat. Kertas itu berisi tiga komponen data. (1) Interval waktu (2) rencana (3) realisasi. Ya! ini adalah lembaran target dan pencapaian.





Tidak ada yang salah dengan interval waktu disana. Kolom rencana nya juga terlihat mudah dicapai. Kolom realisasi nya yang tampak layu, kusam, memprihatinkan. Jika dihitung, rasio target terhadap pencapaian akan menampilkan angka mengenaskan. Performa njeblok!

Kenyataan bahwa waktu tidak dapat di putar ulang membuat keadaan terasa lebih runyam. Intropeksi bergejolak dalam dada, kenyataan ini juga mengharuskan menemukan strategi tokcer disisa waktu yang ada. Berat! 

Tiba2 ada kata2 yang terbesit didalam dada "ala... Entahlah..." Nah, Ini yang unik, tumben-tumbenan aku malah mikirin kata-kata itu setelah ia terbesit di hati. "Kok ala entahlah? - apa yang terjadi setelah ala entahlah?" aku bertanya pada diriku sendiri. *filsafat banget*

Aku menduga, sepertinya saat itu alam bawah sadar ku melarikan diri dari masalah. Mungkin seperti bahasan pak Adi W Gunawan (Pakar hipnoterapi) dalam buku Quantum Life Transformation nya tentang alam bawa sadar.

Disitulah aku merenung kembali, dan mencoba mengingat-ingat kejadian saat aku tertimpa problema dan mengucapkan ala entahlah. Berdasarkan pengalaman, dalam kebanyakan kasus yang kuhadapi saat aku mengatakan "ala, entahlah" maka tak ada penyelesaian untuk masalah itu. Masalah hanya hilang sesaat dan akan muncul di lain waktu. Masalah yang terpending ini kemudian membutuhkan energi yang besar untuk menyelesaikan nya.

Ala, entahlah berdiri pada sudut pandang masalah nya tanpa menemukan solusi, dalam sinonim kata supaya tulisan ini agak panjang ia bermakna : tidak berfikir solutif, tidak problem solver, miskin ide komplikasi dengan resistensi diri yang rentan. 

Tidak solutif adalah sifat tidak keren yang idealnya di jauhi oleh semua umat manusia.

Menjamu TM : Sang Penyiar yang Melancong

Mau kemana kamu kalau ke Prancis? Menara Eifel sepertinya oke, kata mu. Mau kemana kamu kalo ke Papua? Raja Ampat boleh juga tuh, pilih mu. Mau kemana TM kalau ke Jakarta? inilah perjalan yang kami pilih…
*** 

Menjelajah, adalah salah satu naluri manusia. Ia menggerakkan hati Colombus untuk "mengobrak abrik" samudra. Menjelajah melahirkan karya "Imago Mundi" yang sarinya diperas dari setiap tetes keringat perjalanan Marco Polo. Penjelahan selalu meledakkan tantangan, keseruan dan kisah yang kemungkinan besar membekas dihati.

TM, teman ku sang penyiar radio, berhasrat menjelajah. Menjelajah Jakarta dalam keterbatasan waktu yang amat sempit. Kemana aku mengajak nya? inilah perjalanan kami.


Turis lokal modal dengkul - Pejalan Kaki

Jauh-jauh hari, TM sudah memberi kabar bahwa dia akan datang ke Jakarta untul liburan.  Pada Hari “H” melalui whatsapp dan BBM kami menyusun rencana untuk ketemuan di salah-satu stasiun kereta dekat Depok. Karena bertahun-tahun tak bertemu, aku ingin memberi kejutan. Saat tiba di Stasiun, aku mengendap-ngendap seperti kucing ingin memangsa burung gereja dibalik rumput. 

Rupanya TM belum masuk ke stasiun, dia celingukan didekat pintu gate. Dengan strategi tengik, aku masih mengendap-ngendap mendekatinya, dan pada jarak yang ideal, aku berdiri mematung.

Aku diam saja disana sembari senyum-senyum melihatnya, dia masih celingukan tak menyadari keberadaan ku. Aku biarkan saja dia disana sampai dia menyadari ternyata yang nama Zahri sudah jadi patung dengan bibir yang dari tadi menahan tawa. TM sumringah melihat ku.
Sialan, uda di situ aja ni anak. Mungkin itu yang terbesit dihatinya.
Saat itu TM beum menikah, gaya pakaiannya masih sama seperti dahulu, casual dan SUPERRRRR santai dengan tas ransel yang terkesan tidak mau lepas dari punggungnya. Ya ampuun tas itu, dari jaman aku masih di Banda Aceh sampai sekarang masih awet aja. 

Wajah TM juga masih seperti dahulu, tidak berubah mirip ultramen. masih otentik seperti TM yang dulu. Sehari sebelumnya aku menawarkan TM untuk mengelilingi Jakarta dengan berjalan kaki. mengunjungi tempat-temapat yang ku anggap Jakarta able.

“widiih oke juga tu cuy…” kata TM menjawab ide yang beresiko menyebabkan nyeri sendi itu.

Siapapun teman-teman ku yang datang kesini, aku selalu berusaha agar mereka mendapatkan oleh-oleh yang berkesan. Foto adalah salah satu kenang-kenangan sederhana yang mengesankan, maka jika teman-teman datang kemari otomatis aku bersedia sekali menjadi tukang foto untuk mereka dan aku senang (dalam bahasa profesional, jabatan tukan foto yang keren ini boleh disebut : Photographer – Tentu saja kamu sudah tahu itu)


Stasiun Manggarai

Dari Stasiun perjumpaan kami, aku mengajak TM menikmati rasa menaiki Commuterline, rencana nya kami akan turun di Stasiun Sudirman, tapi tunggu dulu, aku menawari TM untuk turun di Stasiun Manggarai dahulu, karena bagiku stasiun ini Photogenic, Instagramable, atau apalah sebutan istilah kekinian nya. 

Manggarai juga sering muncul di film-film tanah air, Salah satu yang terkenal misalnya film Horor "Kereta Hantu Manggarai" Maka dari itu Manggarai wajib disinggahi. Aku mengajak TM turun disini dan mengambil beberapa Foto.

kereta hantu manggarai
Bersama lokomotif Tua di Stasiun Manggarai

Selepas dari Manggarai, kami beranjak naik kereta lagi menuju ke pusat kota dan turun di Stasiun Sudirman untuk melihat gedung-gedung tinggi menjulang yang keberadaan nya tidak dapat ditemukan dikampung halaman TM apalagi di kapung halaman ku. 

Sebut saja wisata gedung
Mendung yang sedari tadi mengintip di puncak langit kini mulai meneteskan gerimis-gerimis nya. Tampa payung dan jas hujan kami go a head menerobos gerimis dan memberantas genangan air remeh temeh di trotoar.

sambil berjalan kami berbagi cerita, Sesekali aku tertawa mendengarkan cerita-cerita hentah hapah dari TM. KOPAJA yang eksistensi nya hanya ada di Jakarta sesekali mengelabui perjalan kami. Hingga akhirnya kami sampai ke Bundaran HI. Aku mengambilkan beberapa foto untuk TM disini.

bundaran hi
TM sampai di Bundaran HI

Genangan-genangan air hujan di pinggir jalan harus kami hindari jika tidak mau kecipratan oleh lindasan KOPAJA yang terkenal “ganas” dijalanan. Setelah melewati Bundaran HI aku dan TM duduk (TIDAK BERMESRAAN! INGAT ITU!) di kursi-kursi urban yang cantik ini sambil memantau situasi siapa tahu ada akhwat yang curi-curi pandang ke arah taman (bukan curi-curi pandang ke kami) Apa istimewanya orang udik di mata cewek-cewek kota? haha


Noungkrong di taman siapa tahu jumpa ulet bulu...
Mendapatkan kenyataan bahwa peluang untuk di lirik akhwat-akhwat kecil adanya, kami hijrah dari tempat yang cantik ini melanjutkan perjalan kaki di trotoar Ibu Kota.
ku berjalan terus tampa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdoa di tengah indah dunia
lagu Nidji diatas agaknya cocok dijadikan soundtrack perjalanan kami karena kami terus berjalan nyaris tampa henti. (padahal baru aja berhenti).

Tidak jauh dari situ, mata photographer amatir ku menangkap moment yang bagus untuk dipotret saat sekelompok pria muda yang sepertinya expatriat dari Hong Kong, Korea, atau entah mana itu. berjalan melewati kami.


contoh photography human interest
cocokkah foto ini masuk dalam katagori photography Human Interest, kawan?  
Sendi-sendi tua mulai gemeratak, tenggorokan ku haus, keringat mulai membanjiri baju ku. kami harus tetap berjalan mengejar waktu yang kian menyempit. Atas nama penjelajahan dan (ilmu pengetahuan???) kami melanjutkan perjalanan menuju Monas, tempat paling mashyur, monumen paling iconic di Jakarta itu.

Sampai akhirnya kami bertemu dengan kawanan kuda.

Setelah masuk di komplek Monas, kami mencoba teknik berfoto yang anti mainstream, agar rasa foto kami jadi berbeda dan lebih berkesan. Dua foto dibawah ini, adalah hasilnya...


gaya berfoto di monas
Foto Anti-Mainstream  di Monas
Bumi mengalami perubahan kemiringan
***

  • Manggarai (Æ´ check)
  • Sudirman (Æ´ check) 
  • Bundaran Hi (Æ´ check) 
  • Monas (Æ´ check) 


Masjid Istiqlal

Kini, saatnya kami melanjutkan safari menuju tempat bernuansa relijius bernama mashur, tempat indah nan sejuk untuk bersimpuh kepada NYA, Menunaikan Sholat Zuhur, dan melafalkan munajat di Masjid Istiqlal, Masjid yang megah. 
Masjid Istiqlal Jakarta

Badan yang kelelahan akibat berjalan jauh, wajah yang bersimbah keringat, otot-otot yang mengeras, urat-urat kaki yang kaku kembali melemas saat aku berwudhu, Badan kembali segar, lelah perjalanan tadi seperti lenyap di sentuh keajaiban wudhu. Setelah Sholat kami beristirahat sebentar dan tak lupa mengambil foto dan memamerkan sarung tua yang kami bawa supaya terkesan santri. Padahal bukan santri.






*Bersambung.....*




Akhirnya Sampai Juga ke Candi Borobudur

Seumur-umur, saya baru pertama kali datang ke Candi Borobudur. walaupun panas, tapi saya suka tempat ini. 

Waktu saya masih SD - di Aceh, ada teman yang pulang ke Jawa, disekolah dia senantiasa bercerita tentang candi Borobudur kepada saya dan teman-teman. Saya suka mendengar ceritanya. Nasib baik menghampiri, ternyata puluhan tahun setelah cerita itu saya berkesempatan mengunjungi candi ini dan menyentuhnya dengan tangan sendiri.


Bahkan, dari Jogja saya sudah merencanakan bakalan ngapain aja di stupa Candi, salah satu nya adalah saya merencanakan berfoto seperti ini dan membuat caption foto “ memeluk Indonesia”. Saya benar-benar melakuakn nya. hihihii.

Ternyata candi Borobudur itu besar sekali, dari jauh bentuknya seperti gunung, Taman-taman di sekitarnya juga asri.



Candi ini diperkirankan di bangun sekitar tahun 800-an Masehi, di era wangsa syailendra. Lihatlah betapa lama nya itu, sungguh menakjubkan bangunan ini masih kokoh hingga sekarang.

Cagar Budaya sekaligus Mahakarya Seni Rupa

Karena saya juga suka dengan Seni rupa, melihat ukiran patung-patung di dinding candi saya takjub. Walaupun karya ini di ciptakan orang orang di masa lampau, namun rasa seninya sangat luar biasa.


Menurut Wikipedia dinding Borobudur dihiasi setidaknya 2.672 panel relief. Borobudur juga fikenal sebagai cagar budaya yang memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Disini saya juga melihat banyak patung-patung dewa dan tentu saja patung Budha.

Untuk kenang-kenangna pernah ke Borobudur, saya sempat mengambil foto di dekat salah satu patung Budha nya.


Pada akhirnya saya merenung, kenapa orang jaman dahulu berniat membuat karya sebesar ini, membuat patung-patung sebanyak ini tentu butuh effort yang sangat besar.

Saya yakin di jaman dahulu membuat bagunan dan karya seni sekeren ini pasti tak luput dari korban jiwa. Menyusuri koridor-koridor budaya, melewati stupa-stupa yang indah, disetiap langkah itu saya mengugurkan rasa takjub di setiap langkahan kaki.
Hingga akhirnya saya sampai ke candi yang satu lagi, Prambanan….

Magelang, 2016

Menikmati Sensasi Pertama Datang ke Jogja

Stasiun Kereta Lempuyangan 10 September 2016


Perjalanan seharian kami yang melelahkan akhirnya sampai di titik nadir, stasiun Lempuyangan adalah tujuan terakhir kami, beberapa kali aku mengerjapkan mata, seolah-olah yang ku lihat adalah ilusi, Aku ada di Jogja !

Jogjakarta kota budaya yang indah mengundang kami untuk liburan disini. Bagiku, sampai ke Jogja merupakan kebahagiaan tersendiri.


Aku menarik napas dalam-dalam begitu keluar dari gerbong kereta, ku luruskan kaki yang berjam-jam terperangkap di kereta ekonomi. kurasakan udara malam jogja yang dingin masuk ke paru-paru ku. ah, udara Jogja, seperti ini rasanya udara Jogja.

Tak jemu-jemu aku memandanggi arsitektur staiun kereta Lempuyangan, magis, mistis, dan kental sejarah. kulihat jam di hape 19.51 pm. Tidak terlalu malam.

aku dan teman-teman segera menghambur keluar stasiun untuk mencari penginapan yang sudah kami pesan saat diperjalanan tadi, susah betul mencari hotel yang dekat dengan Malioboro jika liburan begini, semuanya penuh, tapi untungnya kami dapat satu. Dan tidak terlalu jauh dengan Malioboro.

Badan lelah rasanya hilang ketika sampai di Jogja, kebetulan malam ini adalah malam minggu, di sepanjang jalan malioboro membludak manusia-manusia, kami bergegas ke penginapan untuk mandi dan sholat isya agar bisa segera menikmati Jogjakarta malam hari.

Tak usah berlama-lama di penginapan, karena itu bisa membuang waktu, setelah semua nya beres kami merayapi trotoar di jalan malioboro dan mencoba mampir ke salah satu lesehan nya. Disini aku menelpon ayah dan ibuku, aku katakan kebeliau bahwa aku sampai ke Jogja, ku janjikan mereka akan ku belikan oleh-oleh dari jogja. mendengar itu mereka senang.

Lesehan yang sambelnya pedes


Apa kata pohon Waru jika sampai ke Jogja tapi tidak makan Gudeg? hehehe... ku pesanlag seporsi gudeg dan satu teko teh poci dengan gula batu di lesehan ini, teman-teman mesen macem-macem. Si Nawier entah mesen menu apa yang jelas sambel nya pedes banget. lidah ku meledak...! pedes banget..

Penampakan Lesehan nya


Farhan menelan makanan dengan enzim selusase nya

Nawier membolehkan aku mencicipi sambel yang dia pesan, lalu aku menggelepar.

setelah mengisi perut yang kelaparan, kamipun bergegas meuju patung tugu, salah satu episentrum dan daya tarik wisatawan ada disini

Mirip tugu Simpang lima di Banda Aceh, Ya?!




Tentu saja, dengan gaya yang norak, kami tidak melewatkan untuk berfoto di jalan Malioboro. Sebuah jalan yang fenomenal.





Setelah puas menjelajah malioboro, besok nya, kami ke Borobudur.

Pakai Kulit Manggis

Kemarin saya ngobrol dengan sahabat lama saya, entah kenapa sekarang omongan di tongkorngan topik nya sering spesifik, soal kesehatan ! tema...