Sertifikat Secure Boot Windows 2026 "Kiamat" Juni ini, Cek Windows Autopatch Kamu Sekarang!

Bukan mau nakut-nakutin. Tapi kalau kamu IT admin dan belum buka laporan Secure Boot status Intune minggu ini, mungkin ini saatnya bergerak sebelum sertifikat kedaluwarsa


Ilustrasi secure Boot - Gambar di generate oleh AI


Uda tau belum Gan ? Microsoft baru update Windows Autopatch Secure Boot status report per 19 Mei lalu. Telat? Sedikit. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Yang berubah di laporan Secure Boot status Intune sekarang ada beberapa hal yang cukup berguna  terutama kalau kamu lagi ngurusin device yang hardware-nya campur aduk.


Memahami Confidence Level Windows Autopatch

Yang paling perlu dicermati adalah indikator Confidence Level Windows Autopatch. Microsoft sekarang memberikan penilaian seberapa aman pembaruan dijalankan di device tertentu, berdasarkan data dari device lain yang konfigurasinya mirip. 

  • Confidence tinggi, bisa langsung jalan. 
  • Confidence rendah, pilot dulu  jangan langsung deploy ke semua device sekaligus.

Selain itu, ada trust configuration dan status sertifikat per device  termasuk apakah Windows UEFI CA 2023 dan sertifikat 2023 lainnya sudah masuk atau belum. Plus alert kalau datanya sudah usang, biar kamu nggak ambil keputusan berdasarkan laporan yang datanya dari dua minggu lalu.


Cara Cek Secure Boot Intune dengan Mudah

Untuk memastikan perangkat kamu aman, berikut adalah langkah-langkah mengeceknya: 

1. Masuk ke Intune admin center

2. Reports

3. Windows quality updates

4. tab Reports

5. Secure Boot status.

6. Filter yang belum up to date

7. Prioritaskan confidence tinggi dulu. Sisanya, pilot kecil sebelum massal.

Setelah laporannya terbuka, filter perangkat yang belum up-to-date. Prioritaskan perangkat dengan confidence level tinggi dulu untuk dieksekusi. Sisanya, lakukan pilot project skala kecil sebelum disebar secara massal.

Juni tinggal beberapa hari lagi nih. Kalau fleet kamu sudah bersih, paling tinggal validasi sekali lagi buat nenagin pikiran. Kalau belum ? ya, semoga shift malam kamu dibayar lembur. :D


Post dibuat abis baca2 : Microsoft Tech Community — Windows IT Pro Blog

AI Ternyata Bukan Buat Orang “Jago Teknologi”

Saja Dulu saya termasuk orang yang menganggap AI itu ribet. Keliatannya keren memang, tapi rasanya seperti teknologi yang hanya dipakai programmer, engineer, atau orang-orang yang sangat teknis. Sampai akhirnya saya mulai mencoba sendiri. 




Awalnya cuma iseng. Saya penasaran kenapa belakangan hampir semua orang membahas AI. Mulai dari content creator, pekerja remote, sampai freelancer. Saya pikir: “Memangnya bakal sepengaruh itu ya?” Ternyata setelah dicoba pelan-pelan, saya mulai mengerti kenapa banyak orang mulai memasukkan AI ke workflow harian mereka. Bukan karena AI bisa menggantikan semuanya. Tetapi karena AI bisa mengurangi pekerjaan kecil yang melelahkan.

 Hal Kecil yang Ternyata Sangat Membantu 

Saya bukan orang yang memakai AI untuk hal-hal rumit. Justru kebanyakan yang saya lakukan cukup sederhana. Contohnya: 
* membantu mencari ide tulisan, 
* merangkum artikel panjang, 
* membuat draft awal, 
* membantu menyusun checklist, 
* sampai memperbaiki kalimat yang terasa aneh. 

 Hal-hal kecil seperti ini ternyata cukup membantu menjaga fokus. Kadang yang membuat pekerjaan terasa berat bukan pekerjaannya sendiri, tetapi energi untuk memulai. Dan di situ AI lumayan membantu. 

Yang Saya Suka dari AI 

Kalau dipikir-pikir, AI itu seperti punya partner brainstorming yang selalu standby. Ketika sedang bingung memulai sesuatu, kita tinggal mengetik ide mentah, lalu AI membantu memberikan struktur awal. Memang hasilnya tidak selalu sempurna. Kadang malah aneh. Tetapi sering kali cukup untuk membantu “memecah kebuntuan”. Buat saya itu sudah sangat berguna. 

 Tapi AI Juga Punya Kekurangan 

Semakin sering dipakai, saya juga mulai sadar bahwa AI bukan alat ajaib. Kadang jawabannya terlalu yakin padahal salah. Kadang juga terlalu generik. Karena itu saya mulai menganggap AI sebagai: alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir. Tetap perlu: 
* logika, 
* pengalaman pribadi, 
* dan pengecekan ulang. 

 Kalau semuanya langsung dipercaya mentah-mentah, hasilnya malah bisa berantakan. 

 Workflow Saya Sekarang Sedikit Berubah 

 Sebelum kenal AI, biasanya saya: 
* buka banyak tab, 
* scrolling terlalu lama, 
* kebanyakan mikir, 
* dan sering kehilangan fokus. 

 Sekarang prosesnya sedikit lebih ringan. Saya biasanya: 
* tulis ide kasar, 
* minta AI membantu merapikan, 
* lalu saya edit ulang sesuai gaya sendiri. 

 Hasil akhirnya tetap saya yang menentukan. Tetapi proses awalnya jadi jauh lebih cepat. 

AI Mungkin Akan Jadi “Normal” 

 Menurut saya, beberapa tahun lagi AI mungkin akan terasa seperti internet atau smartphone. Dulu semua orang menganggap itu teknologi khusus. Sekarang jadi hal biasa. Saya rasa AI juga sedang bergerak ke arah sana. Pelan-pelan mulai masuk ke: 
* pekerjaan, 
* belajar, 
* menulis, 
* riset, 
* bahkan aktivitas harian sederhana. 

 Dan kemungkinan perkembangannya masih panjang. 

Saya sendiri masih terus belajar menggunakan AI sampai sekarang. Belum semuanya cocok. Belum semuanya efektif. Tetapi sejauh ini saya merasa AI cukup membantu membuat workflow digital terasa lebih ringan dan lebih terstruktur. Mungkin bukan soal bekerja lebih cepat. Tetapi lebih ke: mengurangi energi yang terbuang untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bisa dibantu teknologi.

Pakai Kulit Manggis

Kemarin saya ngobrol dengan sahabat lama saya, entah kenapa sekarang omongan di tongkorngan topik nya sering spesifik, soal kesehatan ! tema...